This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 09 April 2017

Testimoni Perkuliahan Psikologi Pendidikan

Rhesya Nurvianty
161301029
Psikologi Pendidikan
Kelas A


Menurut saya, selama setengah semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan, banyak ilmu yang telah saya dapatkan dan hal tersebut menyadarkan saya bahwa apa yang sudah saya pelajari masih jauh dari kata cukup. Dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan ini, terutama tugas mengenai observasi, saya menjadi lebih mengetahui pengaplikasian teori-teori dalam psikologi pendidikan pada dunia pendidikan, khususnya dalam hal pengajaran dan pembelajaran. Dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan ini pula saya menjadi tahu bagaimana cara mengajar yang efektif, apa itu motivasi, apa itu pendidikan multikultural, dan lain-lain.

Dalam beberapa waktu, perkuliahan Psikologi Pendidikan cukup banyak memberikan tugas yang harus di kumpulkan dalam waktu singkat. Tugas yang dikumpulkan dalam waktu singkat merupakan salah satu yang menjadi beban pikiran saya. Tapi hal itu tidak terlalu menjadi beban yang sangat berat karena tugas-tugas tersebut dikerjakan dalam kelompok yang membuat saya lebih mudah mengerjakannya.

Sabtu, 01 April 2017

Diversitas Sosiokultural



(Resume 3)
Kultur dan Etnis
Kultur:
ΓΌ  Pola perilaku, keyakinan, dan semua produk dari kelompok orang tertentu yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya.
ΓΌ  Berasal dari interaksi antarkelompok orang dengan lingkungannya selama bertahun-tahun.
ΓΌ  Psikolog Donald Campbell dan rekannya mengemukakan bahwa orang-orang di semua kultur cenderung:
·      percaya bahwa apa yang terjadi dalam kultur mereka adalah sesuatu yang “alami” dan “benar” dan apa yang terjadi di dalam kultur lain adalah “tidak alami” dan “tidak benar”;
·      menganggap bahwa kebiasaan kultural mereka adalah valid secara universal;
·      berperilaku dengan cara-cara yang sesuai dengan kelompok kulturalnya; dan
·      bermusuhan terhadap kelompok kultural lain.
ΓΌ  Perbedaan dalam kultur dideskripsikan dengan istilah individualism (seperangkat nilai yang mengutamakan tujuan personal di atas tujuan kelompok) dan kolektivisme (seperangkat nilai yang mendukung kelompok)
Status Sosioekonomi:
ΓΌ  Untuk mengategorikan subkultur
ΓΌ  Merupakan kelompok orang berdasarkan karakteristik ekonomi, individual, dan pekerjaannya.
ΓΌ  Mengandung kesenjangan tertentu.
ΓΌ  Individu dari status sosioekonomi bawah sering kali kurang pendidikannya, kurang kuat untuk memengaruhi institusi masyarakat (seperti sekolah), dan hanya punya sedikit sumber daya ekonomi.
Etnis:
ΓΌ  Merupakan pola umum karakteristik seperti warisan kultural, nasionalitas, ras, agama, dan bahasa.
ΓΌ  Setiap orang adalah anggota dari satu atau lebih kelompok etnis.
·      Etnisitas dan Sekolah
·      Prasangka, Diskriminasi, dan Bias
·      Diversitas dan Perbedaan:
°       Individu yang tinggal dalam kelompok etnis atau kultural tertentu menyesuaikan diri dengan nilai, sikap, dan tekanan dari kultur tersebut.
°       Mengakui dan menghargai perbedaan merupakan aspek penting untuk berhubungan baik dengan dunia yang multicultural dan beragam.
Isu Bahasa (isu yang terkait dengan pembelajaran bahas kedua)
ΓΌ  Pendidikan Bilingual
·      Bertujuan untuk mengajar mata pelajaran kepada anak imigran dengan menggunakan bahasa asal mereka, sembari secara bertahap memberikan pengajaran dalam bahasa Inggris.
·      Kebanyakan programnya adalah program transisional yang dikembangkan untuk membantu murid sampai mereka bisa memahami bahasa Inggris secara cukup.
ΓΌ  Konsiderasi Bahasa Kedua Lainnya
·      Orang dewasa lebih cepat dalam membuat kemajuan namun kesuksesan mereka dalam menguasai bahasa kedua ini tidak sebesar kesuksesan anak.
·      Kemampuan anak untuk melafalkan bahasa kedua dengan aksen yang tepat juga menurun seiring dengan usia.
Untuk mengajar anak yang berbeda secara kultural dan bahasa, National Association for the Education of Young Children (NAEYC,1996) merekomendasikan beberapa hal berikut ini:
1.    Sadari bahwa semua anak terkait secara kognitif, linguistik, dan emosional dengan bahasa dan kultur rumah mereka.
2.    Akui bahwa anak dapat menunjukkan pengetahuan dan kapasitas mereka dalam banyak cara.
3.    Pahami bahwa tanpa input yang bisa dipahami, pembelajaran bahasa kedua bisa jadi sulit.
4.    Beri contoh penggunaan bahasa Inggris yang tepat dan beri anak kesempatan untuk mengguanakan kosakata dan bahasa yang baru dikuasainya.
5.    Libatkan orang tua dan keluarga secara aktif dalam pembelajaran anak.
6.    Akui bahwa anak dapat dan akan bisa menggunakan bahasa Inggris walaupun bahasa rumah mereka tetapa dipakai dan dihormati.
7.    Bekerja samalah dengan guru lain untuk mempelajari lebih banyak cara mengajar anak yang berbeda secara kultural dan linguistik.

Pendidikan Multikultural
Pendidikan Multikultural:
ΓΌ Adalah pendidikan yang menghargai perbedaan dan mewadahi beragam perspektif dari berbagai kelompok kultural.
ΓΌ Tujuan pentingnya adalah pemerataan kesempatan bagi semua murid.
Memberdayakan Murid
ΓΌ Sekolah harus memberi murid kesempatan untuk belajar tentang pengalaman, perjuangan, dan visi dari berbagai kelompok kultural dan etnis yang berbeda-beda.
ΓΌ Kurikulum sekolah harus jelas anti rasis dan anti diskriminasi. Murid harus bebas mendiskusikan isu etnis dan diskriminasi.
ΓΌ Pendidikan multikultural harus menjadi bagian dari setiap pendidikan murid. Semua murid harus menjadi bilingual dan mempelajari perspektif kultural yang berbeda-beda. Pendidikan multicultural harus direfleksikan di mana saja, termasuk di majalah dinding sekolah, ruang makan siang, dan pertemuan-pertemuan.
ΓΌ Murid harus dilatih untuk lebih sadar budaya (kultur). Ini berarti mengajak murid untuk lebih terampil dalam menganalisis kultur dan lebih menyadari faktor historis, sosial, dan politik yang membentuk pandangan mereka tentang kultur dan etnis. Harapannya adalah agar kajian kritis itu akan memotivasi murid untuk mengupayakan keadilan politik dan ekonomi.
Pengajaran yang Relevan Secara Kultural
ΓΌ Dimaksudkan untuk menjalin hubungan dengan latar belakang kultural dari pelajar.
ΓΌ Guru yang baik akan mengetahui dan mengintegrasikan pengajaran yang relevan secara kultural ke dalam kurikulum karena akan membuat pengajaran menjadi lebih efektif.
Pendidikan yang Berpusat pada Isu
ΓΌ Murid diajari secara sistematis untuk mengkaji isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan sosial.
ΓΌ Tidak hanya mengklarifikasi nilai, tetapi juga mengkaji alternatif dan konsekuensi dari pandangan tertentu yang dianut murid.
ΓΌ Terkait erat dengan pendidikan moral.
Meningkatkan Hubungan di antara Anak dari Kelompok Etnis yang Berbeda-beda
            Beberapa cara untuk meningkatkan hubungan di antara anak dari kelompok etnis yang berbeda-beda, yakni:
·      Kontak personal dengan orang lain dari  latar belakang kultural yang berbeda.
·      Pengambilan perspektif.
·      Pemikiran kritis dan inteligensi emosional.
·      Mengurangi bias.
·      Meningkatkan toleransi.
·      Sekolah dan komunitas sebagai satu tim.
Berikut ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjalankana pengajaran multikultural.
1.    Waspadalah terhadap isi rasis dalam materi pelajaran dan interaksi di kelas.
2.    Pelajari lebih banyak tentang kelompok etnis yang berbeda-beda.
3.    Peka terhadap sikap etnis murid dan jangan menerima keyakinan bahwa “anak tidak melihat perbedaan warna kulit”.
4.    Gunakan buku, film, video, dan rekaman untuk menggambarkan perspektif etnis.
5.    Bersikap peka terhadap perkembangan kebutuhan murid ketika kita milih materi kultural.
6.    Pandang murid secara positif terlepas dari etnis mereka.

7.    Akui bahwa kebanyakan orang tua terlepas dari etnisitasnya, memerhatikan pendidikan anaknya dan ingin agar anaknya sukses di sekolah.

Motivasi, Pengajaran, dan Pembelajaran



(Resume 2)
Mengeksplorasi Motivasi
Motivasi:
ΓΌ  Proses memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku, yang artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.
ΓΌ  Komponen utama dari prinsip psikologi learner-center.
ΓΌ  Aspek penting dari pengajaran dan pembelajaran.
Perspektif tentang Motivasi
1.        Perspektif Behavioral
·      Menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid.
·      Insentif (Peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.)
·      Contoh insentif adalah memberikan indikasi tentang kualitas pekerjaan murid, tanda bintang atau pujian jika mereka menyelesaikan tugas dengan baik, memamerkan karya mereka, memberi sertifikat prestasi, memberi kehormatan, mengumumkan prestasi mereka, dan lain-lain.
2.        Perspektif Humanistis
·      Menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan memilih nasib mereka, dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain).
·      Memandang motivasi murid sebagai konsekuensi dari insentif eksternal.
·      Berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow tentang Hierarki Kebutuhan bahwa kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan:
Ø  Fisiologis: lapar, haus, dan tidur.
Ø  Keamanan (safety): bertahan hidup, seperti perlindungan dari perang dan kejahatan.
Ø  Cinta dan rasa memiliki: keamanan, kasih sayang, dan perhatian dari orang lain.
Ø  Harga diri: menghargai diri sendiri.
Ø  Aktualisasi diri: realisasi potensi diri.
·      Aktualisasi diri merupakan motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia.
·      Menurut Maslow,  aktualisasi diri dimungkinkan hanya setelah kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi.
3.        Perspektif Kognitif
·      Menekankan pada pemikiran murid yang akan memandu motivasi mereka.
·      Muncul minat yang berfokus kepada ide-ide seperti motivasi untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka, dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif.
·      Menekankan juga pada arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan.
·      Berpendapat bahwa tekanan eksternal seharusnya tidak dilebih-lebihkan.
·      Merekomendasikan agar murid diberi lebih banyak kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi mereka sendiri.
·      R.W. White (1959) mengusukan konsep motivasi kompetensi atau ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien.
4.        Perspektif Sosial
·      Menekankan pada motivasi untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
·      Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman.
·      Membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab.
·      Kebutuhan afiliasi tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, ketertarikan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
Motivasi untuk Meraih Sesuatu
1)        Motivasi Ekstrinsik
·           Melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain atau dengan kata lain adalah cara untuk mencapai tujuan.
·           Arti penting dalam motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini lebih ditekankan oleh perspektif behavioral.
·           Sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti pemberian imbalan dan hukuman.
·           Contoh motivasi ekstrinsik adalah murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik, atau murid yang belajar keras untuk menghasilkan sebuah karya yang bagus karena menginginkan hasil karyanya diumumkan oleh guru.
2)        Motivasi Intrinsik
·           Merupakan motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri atau tujuan itu sendiri.
·           Arti penting dari motivasi intrinsik dalam prestasi lebih ditekankan oleh pendekatan kognitif dan humanistis.
·           Contohnya adalah murid yang senang membersihkan ruang kelasnya karena dia senang melihat tempat belajarnya bersih dan rapi, atau murid yang belajar lebih keras ketika menghadapi ujian karena dia senang dengan dengan mata pelajaran yang akan diujikan nantinya.
Ada dua jenis motivasi intrinsic, yaitu (1) motivasi intrinsik dari determinasi diri dan pilihan personal dan (2) motivasi intrinsic dari pengalaman optimal.
(1)   Determinasi Diri dan Pilihan Personal
·      Murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal.
·      Murid juga didorong untuk mengambil tanggung jawab personal atas tindakan mereka, termasuk mencapai tujuan yang telah mereka tentukan sendiri.
(2)   Pengalaman Optimal
·      Berupa perasaan senang dan bahagia yang besar.

·      Kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas.

Psikologi Pendidikan: Perangkat untuk mengajar Secara Efektif.



(Resume 1)
Selayang Pandang Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar. Sedangakan, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Latar Belakang Historis
Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan.
1.        William James (1842-1910)
·           Mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak.
·           Mengatakan bahwa eksperimen psikolgi di laboratorium sering kali tidak bisa menjelaskan kepada kita bagaimana cara mengajar anak secara efektif.
·           Menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas.
·           Merekomendasikan tentang mulainya mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak.
2.        John Dewey (1859-1952)
·           Penggerak untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis.
·           Pembangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di AS, di Universitas Chicago, pada tahun 1894.
·           Mengemukakan pandangan tentang tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner).
·           Mengemukakan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
·           Mengemukakan gagasan bahwa semua anak berhak mendapat pendidikan yang selayaknya.
3.        E. L. Thorndike (1874-1949)
·           Memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran serta perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah.
·           Berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak.
·           Sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah.
·           Mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.
Mengajar: Antara Seni dan Ilmu Pengetahuan
Baik sains maupun seni dan pengalaman keahlian mengajar berperan penting bagi keberhasilan seorang pendidik. Bidang psikologi pendidikan banyak mengambil sumber dari teori dan riset psikologi yang lebih luas, seperti teori Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Kita akan melihat bahwa kedua teori itu banyak mengandung aplikasi yang bisa menjadi pedoman untuk mengajar. Ahli psikologi pendidikan mengakui bahwa mengajar terkadang harus mengabaikan saran-saran ilmiah, tetapi menggunakan improvisasi dan spontanitas.
Sebagai sebuah ilmu, tujuan psikologi pendidikan adalah memberi kita pengetahuan riset yang dapat secara efektif diaplikasikan untuk situasi mengajar. Tetapi, pengajaran yang kita lakukan tetap merupakan sebuah seni mengajar.
Cara Mengajar yang Efektif
Mengajar adalah hal yang kompleks dan murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Dua hal utama yang dibutuhkan yaitu: (1) pengetahuan dan keahlian professional, dan (2) komitmen dan motivasi.
1.        Pengetahuan dan Keahlian Profesional
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik, memiliki strategi pengajaran yang baik dan didukung oleh metode penetapan tujuan, rancangan pengajaran, dan manajemen kelas.
·           Penguasaan Materi Pelajaran (Harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami serta menguasai materi.)
·           Strategi Pengajaran (Harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis.)
·           Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Instruksional (Harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan.)
·           Keahlian Manajemen Kelas (Mampu menjaga kelas tetap aktif bersama, mengorientasikan kelas ke tugas-tugas, serta membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.)
·           Keahlian Motivasional (Punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.)
·           Keahlian Komunikasi (Keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal murid, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif.)
·           Belajar Secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural yang Berlainan (Harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, sensitif terhadap kebutuhan murid, dan mendorong murid untuk menjalin hubungan positif dengan murid berlatar belakang kultural yang berbeda.)
·           Keahlian Teknologi (Mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan komputer ke dalam proses belajar di kelas.)
2.        Komitmen dan Motivasi

Menjadi guru yang efektif juga membutuhkan komitmen dan motivasi. Komitmen dan motivasi dapat membantu guru yang efektif untuk melewati masa-masa yang sulit dan melelahkan dalam mengajar. Guru yang efektif juga punya kepercayaan diri terhadap kemampuan mereka dan tidak akan membiarkan emosi negatif melunturkan motivasi mereka.